Judul Penelitian

 
No Judul Satker Peneliti Tahun Abstrak Metadata
Jumlah Judul Penelitian : 2045
1 Formulasi Bahan Pengawet Alternatif dari Jenis Flora Beracun Untuk Pengawetan Bebak Sebagai Komponen Rumah Di NTT BALAI PENELITIAN KEHUTANAN KUPANG Sigit Baktya Prabawa, Ir. M.Sc 2017 Di kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT) banyak tumbuh pohon gewang (Corypha utan LAMK.). Masyarakat di NTT banyak yang memanfaatkan bebak gewang untuk dijadikan komponen bangunan rumah seperti dinding dan plafon. Namun komponen bangunan seperti dinding dan plafon dari pelepah gewang ini mengandung bahan yang berpotensi untuk diserang oleh organisme seperti rayap misalnya yang mengakibatkan usia pemakaiannya menjadi tidak lama dan penampilannya menjadi jelek. Untuk atasi hal ini diperlukan tindakan pengawetan. Jenis-jenis pengawet konvensional yang ada umumnya mengandung bahan yang kurang ramah lingkungan, cenderung mahal dan tidak mudah didapat. Karena itu perlu menemukan/ memformulasi/ meramu bahan/ jenis pengawet alternatif alami seperti flora beracun yang lebih sesuai dengan masyarakat yang tinggal di NTT. Sementara itu penelitian tentang pengawetan bebak dari pelepah daun gewang maupun dalam rangka meningkatkan umur pemakaiannya belum banyak dilakukan. Sebab itu tujuan dari penelitian ini adalah memformulasi (meramu) bahan pengawet alternatif dari flora beracun tuba (Derris elliptica BENTH.) & walihu (Litsea cubeba PERS.) untuk pengawetan bebak sebagai komponen rumah di NTT. Metode penelitian atau ruang lingkup penelitian meliputi: pengumpulan dan penyiapan bahan yang akan diekstrak, penyiapan bahan pelarut, pengekstraksian, pengumpulan dan penyiapan sampel/ contoh uji bebak, aplikasi pengawetan, analisa GCMS, pengujian evektifitas pengawet dengan rayap tanah, uji retensi dan pelaporan. Untuk sementara hasil penelitian belum dapat disampaikan karena keterlambatan ketersediaan bahan pelarut, sehingga semua proses menjadi mundur. Baik analisa GCMS, uji evektifitas pengawet maupun uji retensi masih dalam proses pelaksanaan/ pengamatan. Namun demikian akan terus dikerjakan agar segera mendapatkan hasilnya. Kata kunci : bebak, gewang, lontar, flora beracun, tuba, walihu, pengawet nabati, pengawet alternatif
  • Program : coba
  • Kodefikasi : 0.0.0.14
  • RPI :
  • UKP :
2 Pemanfaatan Mangrove sebagai Sumber Pangan di Nusa Tenggara Timur BALAI PENELITIAN KEHUTANAN KUPANG Ermi Erene Koeslulat, S.Si, M.Sc. 2017 Masalah kerawanan pangan merupakan salah satu isu penting di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Namun demikian, provinsi NTT memiliki kawasan hutan mangrove seluas 40.695,54 ha, yang pemanfaatannya masih jauh dari optimal. Di samping itu, telah terjadi penurunan kuantitas dan kualitas hutan mangrove di NTT. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan kuantitas dan kualitas hutan mangrove, peningkatkan model pemanfaatan hutan mangrove sebagai sumber pangan dan menyediakan teknologi pemanfaatan mangrove sebagai sumber pangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1) memperoleh data produktivitas buah mangrove (Rhizophora mucronata dan Sonneratia sp.); 2) mendapatkan teknologi pengolahan buah (Sonneratia sp); dan 3) memperoleh data pertumbuhan mangrove (R. mucronata). Data produktivitas buah diperoleh dengan menimbang buah dari 3 kelas diameter, yaitu < 5,0 cm; 5,0-10,0 cm dan 10,0-15,0 cm setiap bulan (gram/pohon). Data produktivitas ditabulasi untuk melihat pola ketersediaan buah selama 12 bulan dan diuraikan secara deskriptif. Teknologi pengolahan buah diperoleh dengan: a) uji proksimat buah segar meliputi berat kering, protein kasar, lemak kasar, serat kasar, karbohidrat, bahan ekstrak tanpa nitrogen dan gross energy; b) pengolahan buah dengan perlakuan awal berupa perebusan-penghancuran dan pengancuran-perebusan untuk Sonneratia sp. dan perendaman dengan air selama 1, 2 dan 3 hari untuk R. mucronata; c) uji proksimat tepung; d) pembuatan kue dari tepung Sonneratia sp dan e) uji kesukaan produk tepung mangrove sebanyak 30 responden semi terlatih. Data pengolahan buah ditabulasi dan diuraikan secara deskriptis. Data pertumbuhan mangrove pada umur 6, 9 dan 12 pada perlakuan tinggi genangan (0-10 cm; 10-20 cm; dan 20-30 cm) dan jarak tanam (0,5 m x 0,5 m; 1 m x 1 m; 1 m x 2 m; dan 1,5 m x 2 m). Parameter yang diuji adalah persen hidup, tinggi dan diameter. Hasil penelitian produktivitas buah menunjukkan bahwa produktivitas buah tertinggi Sonneratia sp ditunjukkan pada Bulan Oktober sebesar 143,6-168,2 gram/pohon. Produktivitas buah R. mucronata tertinggi ditunjukkan oleh pohon pada kelas diameter 10,0-15,0 cm, pada Bulan November sebesar 503,8 gram/pohon. Sonneratia sp. memiliki berat kering 92,72%, bahan organik 92,40%, protein kasar 10.10%, lemak kasar 6,93%, serat kasar 21,16, karbohidrat 75,35 dan energi sebesar 4.250,15 kkal/kg. R. mucronata memiliki berat kering 94,98%, bahan organik 96,85%, protein kasar 4,02%, lemak kasar 3,08%, serat kasar 12,68%, karbohidrat 89,75%, dan energi 4.178,82 kkal/kg. Uji kesukaan kue mangrove dari tepung Sonneratia sp. menunjukkan bahwa pada parameter warna, kue mangrove banyak disukai, sedangkan parameter bau, tekstur dan rasa, kontrol lebih disukai. Pada penanaman mangrove persen hidup rata-rata pada umur 12 bulan adalah 56,33%. Untuk tinggi tanaman, jarak tanam 0,5x0,5 m memberikan tinggi tanaman terbaik, yaitu 49,88 cm. Penanaman pada jarak tanam 1,5x2m, pada tinggi genangan 20-30 memberikan diameter terbaik. Kata kunci: produktivitas buah, proksimat, budidaya, Sonneratia sp., R. mucronata
  • Program : coba
  • Kodefikasi : 0.0.0.14
  • RPI :
  • UKP :
3 Pemanfaatan Mangrove sebagai Sumber Pangan di Nusa Tenggara Timur BALAI PENELITIAN KEHUTANAN KUPANG Ermi Erene Koeslulat, S.Si, M.Sc. 2017 Masalah kerawanan pangan merupakan salah satu isu penting di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Namun demikian, provinsi NTT memiliki kawasan hutan mangrove seluas 40.695,54 ha, yang pemanfaatannya masih jauh dari optimal. Di samping itu, telah terjadi penurunan kuantitas dan kualitas hutan mangrove di NTT. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan kuantitas dan kualitas hutan mangrove, peningkatkan model pemanfaatan hutan mangrove sebagai sumber pangan dan menyediakan teknologi pemanfaatan mangrove sebagai sumber pangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1) memperoleh data produktivitas buah mangrove (Rhizophora mucronata dan Sonneratia sp.); 2) mendapatkan teknologi pengolahan buah (Sonneratia sp); dan 3) memperoleh data pertumbuhan mangrove (R. mucronata). Data produktivitas buah diperoleh dengan menimbang buah dari 3 kelas diameter, yaitu < 5,0 cm; 5,0-10,0 cm dan 10,0-15,0 cm setiap bulan (gram/pohon). Data produktivitas ditabulasi untuk melihat pola ketersediaan buah selama 12 bulan dan diuraikan secara deskriptif. Teknologi pengolahan buah diperoleh dengan: a) uji proksimat buah segar meliputi berat kering, protein kasar, lemak kasar, serat kasar, karbohidrat, bahan ekstrak tanpa nitrogen dan gross energy; b) pengolahan buah dengan perlakuan awal berupa perebusan-penghancuran dan pengancuran-perebusan untuk Sonneratia sp. dan perendaman dengan air selama 1, 2 dan 3 hari untuk R. mucronata; c) uji proksimat tepung; d) pembuatan kue dari tepung Sonneratia sp dan e) uji kesukaan produk tepung mangrove sebanyak 30 responden semi terlatih. Data pengolahan buah ditabulasi dan diuraikan secara deskriptis. Data pertumbuhan mangrove pada umur 6, 9 dan 12 pada perlakuan tinggi genangan (0-10 cm; 10-20 cm; dan 20-30 cm) dan jarak tanam (0,5 m x 0,5 m; 1 m x 1 m; 1 m x 2 m; dan 1,5 m x 2 m). Parameter yang diuji adalah persen hidup, tinggi dan diameter. Hasil penelitian produktivitas buah menunjukkan bahwa produktivitas buah tertinggi Sonneratia sp ditunjukkan pada Bulan Oktober sebesar 143,6-168,2 gram/pohon. Produktivitas buah R. mucronata tertinggi ditunjukkan oleh pohon pada kelas diameter 10,0-15,0 cm, pada Bulan November sebesar 503,8 gram/pohon. Sonneratia sp. memiliki berat kering 92,72%, bahan organik 92,40%, protein kasar 10.10%, lemak kasar 6,93%, serat kasar 21,16, karbohidrat 75,35 dan energi sebesar 4.250,15 kkal/kg. R. mucronata memiliki berat kering 94,98%, bahan organik 96,85%, protein kasar 4,02%, lemak kasar 3,08%, serat kasar 12,68%, karbohidrat 89,75%, dan energi 4.178,82 kkal/kg. Uji kesukaan kue mangrove dari tepung Sonneratia sp. menunjukkan bahwa pada parameter warna, kue mangrove banyak disukai, sedangkan parameter bau, tekstur dan rasa, kontrol lebih disukai. Pada penanaman mangrove persen hidup rata-rata pada umur 12 bulan adalah 56,33%. Untuk tinggi tanaman, jarak tanam 0,5x0,5 m memberikan tinggi tanaman terbaik, yaitu 49,88 cm. Penanaman pada jarak tanam 1,5x2m, pada tinggi genangan 20-30 memberikan diameter terbaik. Kata kunci: produktivitas buah, proksimat, budidaya, Sonneratia sp., R. mucronata
  • Program : coba
  • Kodefikasi : 0.0.0.14
  • RPI :
  • UKP :
4 Optimasi Pemanfaatan Nira Lontar (Borassus flabelifer) sebagai Sumber Energi Alternatif di Nusa Tenggara Timur BALAI PENELITIAN KEHUTANAN KUPANG Dani Sulistiyo Hadi, S.Si 2017 Bioetanol merupakan salah satu bentuk dari energi hijau karena dihasilkan dari fermentasi karbohidrat/ gula yang berasal dari tumbuhan. Fermenter merupakan faktor utama dalam keefektifan proses fermentasi sebagai proses krusial dalam konversi gula menjadi alkohol, sementara proses destilasi merupakan proses penting ekstraksi bioetanol dalam cairan terfermentasi. Tujuan umum penelitian pada tahun kedua ini adalah mendapatkan informasi terkini yang komprehensif mengenai fermenter yang efektif, efisien, dan ekonomis, dengan tujuan khusus mendapatkan data jenis mikroba, komposisi ragi (fermenter) yang optimal untuk produksi bioethanol; dan mendapatkan teknik aplikasi produksi dan pemanfaatan bioethanol pada skala laboratorium. Metode yang digunakan antara lain, eksplorasi, isolasi, dan identifikasi fermenter alami, ujicoba formulasi fermenter efektif, ujicoba proses destilasi dan absorbsi ZAT (Zeolite Alam Teraktivasi). Analisis data menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service and Solution) versi 11.5 berbasis Windows 10. Hasil penelitian menujukkan bahwa fermenter alami pada nira lontar teridentifikasi berupa mikroba golongan khamir (yeasts), bakteri asam laktat (lactic acid bacteria), dan bakteri asam asetat (acetic acid bacteria) diantaranya antara lain: Micrococcus, Schizosaccharomyces japonicus, Saccharomyces cerevisiae, Saccharomyces chevalieri, Acetobacter aceti, Acetobacter rancens, Candida glabarata, Candida pseudotropicalis, Pichia membranaefaciens., Pediococcus sp., Bacillus sp., dan Sarcina sp. Formulasi fermenter yang terbaik ditunjukkan oleh penambahan 20 % fermenter alami pada bahan baku Laru putih tanpa penambahan bahan tambahan lainnya, mampu menghasilkan rendemen alkohol tertinggi yaitu hingga 47%. Produksi bioetanol yang optimal memiliki nilai efesiensi destilasi 57,51; proses dijalankan pada suhu destilasi konstan 78°C, menggunakan kolom fraksinasi, pendingin spiral, dan pengadukan magnetik dapat menghasilkan bioetanol dengan kadar 94%. Peningkatan kadar bioetanol menjadi fuel grade, dengan efektifitas 3,5% dapat memanfaatkan ZAT (Zeolite Alam Teraktivasi). Perlu dilakukan ujicoba produksi bioetanol skala rumah tangga untuk mengamati dan mengukur efektifitas proses dan kelayakan usahanya. Kata kunci: sumber energi alternatif, bioetanol, nira, lontar (Borassus flabelifer), fermentasi, desa model
  • Program : coba
  • Kodefikasi : 0.0.0.14
  • RPI :
  • UKP :
5 Budidaya Dan Pemanfaatan Faloak (Sterculia quadrifida R.Br.) Sebagai Tumbuhan Obat Potensial NTT BALAI PENELITIAN KEHUTANAN KUPANG Siswadi, S.Hut.,M.Sc. 2017 Untuk dapat dikembangkan sebagai obat, suatu ekstrak atau bahan harus diidentifikasi secara ilmiah, diketahui kandungan bahan aktifnya, keamanannya jika dikonsumsi dan dapat dijadikan suatu produk yang disukai serta siap dikonsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendapatkan data LC50 ekstrak etanol kulit batang faloak; 2) menghasilkan produk faloak teh kulit batang yang siap konsumsi; 3) mengidentifikasi spesies faloak asal P. Flores dan mengidentifikasi senyawa pada kulit batang, daun dan biji faloak serta klengis dengan analisis LC-MS. Untuk mengetahui nilai LC50 kulit batang faloak dilakukan dengan metode USEPA menggunakan Daphnia sp. Tingkat kesukaan panelis terhadap beberapa formula teh faloak diketahui dengan uji organoleptik. Nilai LC50 untuk ekstrak etanol kulit batang faloak adalah 351 mg/L. Menurut Meyer, et al. (1982), suatu ekstrak dikatakan berpotensi antikanker jika memiliki nilai LC50 ? 1000 mg/L. Berdasarkan standar tersebut ekstrak faloak dapat dikatakan memiliki potensi antikanker atau sitotoksik. Teh kulit batang faloak dengan tambahan daun stevia 10% adalah yang paling disukai oleh panelis, dibandingkan dengan teh yang diberi tambahan kayu manis 10% dan daun pandan 10%. Dari hasil identifikasi ditemukan bahwa spesies faloak yang ada di pulau Flores (klengis) merupakan spesies Sterculia quadrifida R.Br. dan Sterculia parviflora Roxb. ex G. Don. Hasil identifikasi senyawa pada Sterculia quadrifida dan Sterculia parviflora mengindikasikan bahwa kedua spesies tersebut mengandung senyawa alkaloid dan beberapa senyawa lain yang berpotensi untuk dikembangkan untuk pengobatan kanker (Sanguinarine, Demecolcine, Strychnine), sebagai antioksidan, pengobatan gagal ginjal dan hipertensi (Phosphoramidon). Kata kunci: Sterculia quadrifida, Sterculia parviflora, toksisitas, organoleptik, teh kulit batang.
  • Program : coba
  • Kodefikasi : 0.0.0.14
  • RPI :
  • UKP :
6 Peran Hukum Tradisional terhadap Pembangunan Lingkungan Hidup dan Kehutanan BALAI PENELITIAN KEHUTANAN KUPANG Budiyanto Dwi Prasetiyo, S.Sos, MA 2017 Keberadaan hukum adat tidak bisa dipisahkan dari entitas masyarakat tradisional Indonesia. Meski hukum adat terbukti mampu mengatur masyarakat mengelola hutan secara lestari namun keberadaannya kerap diabaikan dalam pembangunan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi peran hukum adat terhadap pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan pada masyarakat hukum adat di Nusa Tenggara. Di tahun kedua, sasaran penelitian ini adalah melakukan pemetaan peluang dan hambatan proses internalisasi, mengidentifikasi modal sosial bagi prakondisi internalisasi hukum adat menjadi hukum formal, dan merumuskan strategi internalisasi secara partisipatoris. Penelitian ini bersifat kualitatif dan menggunakan metode penelitian indigenous. Hasil penelitian menyebutkan bahwa peluang internalisasi didukung oleh adanya komitmen kuat dari kelompok muda dan pemerintah desa untuk melakukan upaya pencatatan dan pembuatan perdes. Sedangkan hambatan datang dari kelompok tua yang cenderung resisten terhadap rencana pencatatan dan pembuatan perdes. Modal sosial yang sangat berpotensi untuk mendorong dilakukannya upaya internalisasi adalah adanya jiwa altruistic di setiap warga masyarakat adat adanya trust yang tinggi yang dimiliki masyarakat adat terhadap lembaga adat dan para tokoh (elite) adat, serta adanya jaringan kerja (networks) yang dimiliki masing-masing desa sampel guna mendukung upaya internalisasi. Penelitian ini menyarankan, pertama, agar dilakukan pelibatan stakeholders yang lebih luas, baik dari pemerintah maupun non pemerintah guna mendukung upaya internalisasi. Kedua, perlu dilakukan penelitian lanjutan yang bersifat participatory action research untuk membantu masyarakat desa memperlancar proses pencatatan dan pembentukan perdes. Ketiga, perlu dikampanyekan penerbitan perda tentang perlindungan hukum adat dan masyarakatnya sebagai payung hukum bagi perdes yang diinisiasi. Kata kunci: hukum adat, masyarakat hukum adat, pembangunan, kehutanan, nusa tenggara, bayan, waerebo, boti
  • Program : coba
  • Kodefikasi : 0.0.0.14
  • RPI :
  • UKP :
7 Budidaya Cendana (Santalum album Linn.), Gaharu (Gyrinops vestergii (gilg.) Domke) dan Kayu Papi (Exocarpus latifolia R.Br.) Berbasis Agroforestri BALAI PENELITIAN KEHUTANAN KUPANG Frida Pramukawati Inangsih, SP 2017 Saat ini cendana di Indonesia berdasarkan kriteria IUCN (2001) termasuk kategori Critically Endangered. Kondisi tersebut mendorong untuk segera dilakukan upaya pengembangan terhadap tanaman cendana. Mengingat hasil hutan bukan kayu cendana merupakan hasil jangka panjang, maka perlu adanya tambahan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan. Pola agroforestri diharapkan mampu menjadi solusi pemenuhan akan kebutuhan petani dan tujuan pelestarian serta pengembangan cendana di masyarakat. Pada jangka pendek, pola pertanian berupa tanaman pertanian non kehutanan mampu menjawab kebutuhan petani. Jangka menengah dapat dipenuhi dengan jenis-jenis MPTS, juga alternatif lainnya seperti gaharu. Gaharu mampu memberikan hasil dalam jangka menengah, mengingat nilai ekonominya yang tinggi dengan peluang pasar yang masih besar pula. Sedangkan kayu papi yang memiliki sifat kayu aromatik, dapat berfungsi sebagai tanaman substitusi bagi cendana, sampai saat ini memiliki peluang pasar yang cukup besar. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan teknik budidaya cendana, gaharu dan kayu papi dengan pola agroforestri di Nusa Tenggara Timur dengan memanfaatkan peta kesesuaian lahan jenis cendana yang tersedia. Kegiatan penelitian diawali dengan survei pemilihan lokasi plot, eksplorasi benih cendana, gaharu dan kayu papi pada daerah- daerah yang masih tersedia benih tersebut yaitu cendana dari Soe, gaharu dari Flores Timur, dan kayu papi dari Kabupaten Kupang dilanjutkan dengan kegiatan pengolahan lahan. Kegiatan selanjutnya adalah pemagaran plot seluas 1 ha yang bertujuan untuk mengetahui batas plot dan mencegah ternak- ternak liar masuk ke dalam plot. Persiapan design plot seluas 5,152 m² terdiri dari 9 subplot dengan jarak tanam 4x4m. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan dua faktor yakni pola tanam (PAf) dan Input (I): pemberian pupuk kandang 4,3,2 kali dan pemeliharaan. PAf1-I1: Pola tanam dengan input 1, PAf2-I2: pola tanam dengan input 2 dan PAf3-I3 : pola tanam dengan input 3, masing- masing PAf- I diulang 3 kali sehingga perlakuan sebanyak 9 perlakuan (9 subplot). Pemasangan ajir untuk memudahkan dalam pembuatan lubang tanam dan jarak antar tanaman dalam sub plot terlihat rapi dan jelas. Pembuatan lubang tanam dilakukan dengan melubangi tanah yang telah diberi ajir, dilanjutkan dengan pemupukan dasar berupa pupuk kandang. Penanaman tanaman pokok (cendana, gaharu dan kayu papi) dan tanaman sela (jagung, labu, kacang tanah, turi dan kelor). Hasil perlakuan pada demplot penelitian menunjukkan: rata- rata tinggi (T) dan diameter (D) dari ketiga bibit sebelum ditanam adalah cendana T: 39,9 cm dan D : 0,23 mm; gaharu T: 19,1 cm dan D: 0,295mm; dan kayu papi T: 23,3 cm dan D: 0,215mm. Tanaman sela ditanam bersamaan dengan tanaman pokok. Kata kunci : Santalum album, gaharu, kayu papi, budidaya, agroforestri, peta kesesuaian lahan
  • Program : coba
  • Kodefikasi : 0.0.0.14
  • RPI :
  • UKP :
8 Konservasi Eksitu dan Rehabilitasi Kura-Kura Leher Ular Rote di NTT BALAI PENELITIAN KEHUTANAN KUPANG Kayat, S.Hut, M.Sc. 2017 Populasi kura-kura leher ular rote di alam hingga kini tidak diketahui keberadaannya dan diduga sudah punah di alam (extinct in the wild) sehingga perlu upaya pemulihan populasi. Langkah awal dalam usaha pemulihan populasi adalah meningkatkan populasi kura-kura leher ular rote yang berada di penangkaran sehingga jika populasinya sudah banyak bisa direintroduksi ke habitat alaminya atau digunakan sebagai indukan untuk penangkaran di masyarakat. Tujuan penelitian adalah mendapatkan paket data dan informasi tentang: (1) produksi, kualitas, dan daya tetas telur kura-kura leher ular rote (Chelodinamccordi) melalui perbaikan variasi pakan di penangkaran; (2) teknik peningkatan persen hidup anakan kura-kura leher ular rote (Chelodinamccordi); (3) teknik rehabilitasi kura-kura leher ular rote di penangkaran; dan (4) kesiapan masyarakat di P. Rote untuk menangkarkan kura-kura leher ular rote (Chelodinamccordi). Parameter yang diukur meliputi produksi telur, daya tetas (%), lama inkubasi (hari), dan berat tetas (gram). Pada penelitian teknik rehabilitasi, diberikan beberapa jenis pakan yang ada di habitat alami. Pada penangkaran di masyarakat dilakukan penelitian: (a) uji coba pemberian pakan; (b) pengamatan perilaku harian; dan (c) pertumbuhan kura-kura leher ular rote. Hasil penelitian menunjukkan: (1) pemberian variasi pakan akan meningkatkan produksi, kualitas dan daya tetas telur; (2) melalui teknik penjemuran dan pemberian variasi pakan yang diberikan akan meningkatkan persen hidup anakan kura-kura mencapai 83,5 %; (3) pemberian jenis pakan alami hidup dan ukuran disesuaikan dengan kemampuan anakan kura-kura akan meningkatkan keberhasilan proses rehabilitasi; (4) masyarakat di Pulau Rote telah siap untuk menangkarkan kura-kura leher ular rote, hal ini terlihat dari keberhasilan proses adaptasi dan pertumbuhan anakan kura-kura yang cukup baik. Kata kunci: rehabilitasi, kura-kura leher ular rote, masyarakat
  • Program : coba
  • Kodefikasi : 0.0.0.14
  • RPI :
  • UKP :
9 Konservasi Eksitu dan Rehabilitasi Kura-Kura Leher Ular Rote di NTT BALAI PENELITIAN KEHUTANAN KUPANG Kayat, S.Hut, M.Sc. 2017 Populasi kura-kura leher ular rote di alam hingga kini tidak diketahui keberadaannya dan diduga sudah punah di alam (extinct in the wild) sehingga perlu upaya pemulihan populasi. Langkah awal dalam usaha pemulihan populasi adalah meningkatkan populasi kura-kura leher ular rote yang berada di penangkaran sehingga jika populasinya sudah banyak bisa direintroduksi ke habitat alaminya atau digunakan sebagai indukan untuk penangkaran di masyarakat. Tujuan penelitian adalah mendapatkan paket data dan informasi tentang: (1) produksi, kualitas, dan daya tetas telur kura-kura leher ular rote (Chelodinamccordi) melalui perbaikan variasi pakan di penangkaran; (2) teknik peningkatan persen hidup anakan kura-kura leher ular rote (Chelodinamccordi); (3) teknik rehabilitasi kura-kura leher ular rote di penangkaran; dan (4) kesiapan masyarakat di P. Rote untuk menangkarkan kura-kura leher ular rote (Chelodinamccordi). Parameter yang diukur meliputi produksi telur, daya tetas (%), lama inkubasi (hari), dan berat tetas (gram). Pada penelitian teknik rehabilitasi, diberikan beberapa jenis pakan yang ada di habitat alami. Pada penangkaran di masyarakat dilakukan penelitian: (a) uji coba pemberian pakan; (b) pengamatan perilaku harian; dan (c) pertumbuhan kura-kura leher ular rote. Hasil penelitian menunjukkan: (1) pemberian variasi pakan akan meningkatkan produksi, kualitas dan daya tetas telur; (2) melalui teknik penjemuran dan pemberian variasi pakan yang diberikan akan meningkatkan persen hidup anakan kura-kura mencapai 83,5 %; (3) pemberian jenis pakan alami hidup dan ukuran disesuaikan dengan kemampuan anakan kura-kura akan meningkatkan keberhasilan proses rehabilitasi; (4) masyarakat di Pulau Rote telah siap untuk menangkarkan kura-kura leher ular rote, hal ini terlihat dari keberhasilan proses adaptasi dan pertumbuhan anakan kura-kura yang cukup baik. Kata kunci: rehabilitasi, kura-kura leher ular rote, masyarakat
  • Program : coba
  • Kodefikasi : 0.0.0.14
  • RPI :
  • UKP :
10 Pengembangan Spesies Kunci Budaya dalam Pemberdayaan Masyarakat dan Konservasi Lingkungan BALAI PENELITIAN KEHUTANAN KUPANG Gerson N Njurumana, S.Hut, M.Sc. Dr. 2017 Indonesia merupakan negara multi-kultur, konsekuensinya adalah dijumpainya aneka spesies tumbuhan yang berperan sebagai spesies kunci budaya (SKB), diantaranya sirih (Piper betle) dan pinang (Areca cathecu) yang dimanfaatkan dalam tradisi nginang, pengobatan tradisional, sosial-budaya dan industri farmasi dan kesehatan. Kebutuhan bahan baku kedua komoditi masih tinggi, mulai dari tingkat lokal hingga pasar internasional. Penelitian bertujuan: (a) analisis pengelolaan HHBK di Sumba Timur; (b) pengumpulan baselina data sosial-ekonomi petani pinang di Sumba Tengah; (c) Pengembangan demplot SKB di Pulau Sumba, dan (d) evaluasi demplot SKB di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Penelitian bersifat action riset dan partisipatif, Focus Group Discussion (FGD), sosialisasi dengan para pihak petani, tokoh dan pengambil kebijakan. Hasil penelitian adalah: (a) pengelolaan HHBK di Sumba Timur belum optimal, sinergisitas diantara para pihak belum berjalan dengan baik sehingga pengelolaan HHBK tidak optimal; (b) kondisi sosial-ekonomi petani pinang di Sumba Tengah adalah kelompok prasejahtera dengan tingkat pendidikan yang masih rendah, sehingga berdampak terhadap pengelolaan dan pengembangan komoditi pinang; (c) pendampingan pengembangan demplot SKB secara intensif pada lahan seluas 20 ha pada unit-unit hutan rakyat; dan (d) hasil evaluasi pengembangan demplot SKB di Desa Loli, Kabupaten Timor Tengah Selatan berbasis masyarakat belum optimal, diindikasikan oleh keamanan demplot yang rawan terhadap kebakaran dan faktor sosial, termasuk faktor ekologis berupa kekeringan menyebabkan banyak tanaman mengalami kematian. Kata kunci : pinang, budaya dan konservasi lingkungan
  • Program : coba
  • Kodefikasi : 0.0.0.14
  • RPI :
  • UKP :